Selasa, 02 April 2019

Kesehatan - Voice of America: DRC, Madagaskar Kesulitan Kontrol Ebola dan Wabah Campak

Kesehatan - Voice of America
Himpunan berita dalam website VOA mengenai berbagai penemuan dalam bidang kesehatan. 
DRC, Madagaskar Kesulitan Kontrol Ebola dan Wabah Campak
Apr 3rd 2019, 02:43

Kasus Ebola di Republik Demokratik Kongo kini meningkat, mencapai 900 lebih sejak penyakit itu merebak di daerah Kivu Utara pada bulan Agustus. Organisasi  Doctors Without Borders, yang petugas kesehatannya baru saja kembali dari kawasan itu, mengatakan penanggulangan Ebola di negara Afrika tengah gagal mengatasi wabah itu. Joanne Liu, Presiden Doctors Without Borders Int'l mengatakan, "Saat ini ada 40% lebih kematian di masyarakat. Itu artinya kita belum menjangkau masyarakat dan mereka belum mendapat perhatian kita. 35% dari warga yang baru terinfeksi tidak diketahui rantai penularannya; artinya kita tidak tahu bagaimana mereka terkena penyakit itu." Organisasi amal medis  yang juga dikenal sebagai MSF, baru-baru ini menangguhkan kegiatannya di pusat perawatan Katwa dan Butembo, setelah lokasi-lokasi itu diserang. Tetapi pusat-pusat di daerah lain tetap dibuka. "Yang jelas ada penolakan besar terhadap seluruh penanggulangan Ebola. Dalam sebulan terakhir saja, ada 30 lebih  insiden dan serangan berbeda yang melibatkan unsur-unsur penanggulangan Ebola," papar Joanne. Masalah tersebut diperparah oleh ketidakpercayaan otoritas setempat. Dr. Anthony Fauci, Direktur Lembaga  Kesehatan Nasional AS, mengatakan masih banyak yang harus dilakukan untuk merebut kepercayaan masyarakat. "DRC memiliki sejarah yang sangat pelik. Mereka mengalami penindasan, ada kelompok pemberontak dan ketidakstabilan politik. Jadi sangat sulit untuk membuat orang-orang di tingkat akar rumput mempercayai otoritas medis terutama ketika menyaksikan kedatangan mereka disertai perlindungan aparat bersenjata." Di tempat lainnya  di benua itu, Madagaskar berjuang melawan wabah campak yang telah merenggut hampir 1.000 anak dalam enam bulan terakhir. Dr. Nancy Messonnier dari Pusat Pencegahan dan Pengawasan Penyakit Amerika (CDC) mengatakan, "Jika orang yang menderita campak berada di ruangan dengan 10 orang lainnya yang tidak divaksin, sembilan diantaranya  akan terkena campak." Penyakit yang sangat menular ini mudah menyebar melalui bersin dan batuk, dan dampaknya bisa sangat parah, kata Dr. Fauci. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan jumlah kasus campak meningkat di seluruh dunia dan tanpa tindakan, wabah itu bisa menyebabkan epidemi global. Meskipun ada keberhasilan program vaksinasi di beberapa negara, penyakit-penyakit menular masih menjadi penyebab utama kematian di banyak bagian lain Afrika. [my]

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar