Sabtu, 30 Juni 2018

Kesehatan - Voice of America: Paparan Asap Rokok Pada Masa Kehamilan Berkaitan dengan Hilangnya Indra Pendengaran pada Bayi

Kesehatan - Voice of America
Himpunan berita dalam website VOA mengenai berbagai penemuan dalam bidang kesehatan. 
Paparan Asap Rokok Pada Masa Kehamilan Berkaitan dengan Hilangnya Indra Pendengaran pada Bayi
Jun 30th 2018, 08:07

Anak-anak yang terpapar asap tembakau dalam rahim dan pada masa-masa awal usianya memiliki dua kali peluang lebih besar kehilangan indra pendengaran dibandingkan dengan anak-anak yang tidak terpapar sama sekali pada asap tembakau, sebagaimana yang ditunjukkan oleh sebuah studi di Jepang. Meskipun penelitian sebelumnya menunjukkan perokok dewasa berisiko lebih besar untuk kehilangan indra pendengarannya ketimbang mereka yang tidak merokok, hanya sedikit yang diketahui seberapa besar risiko paparan asap rokok pada bayi atau janin terhadap indra pendengaran. Untuk studi saat ini, para peneliti menguji data dari 50.734 anak yang lahir antara tahun 2004 dan 2010 di Kobe City, Jepang.  Secara keseluruhan, sekitar 4 persen dari anak-anak ini terpapar pada asap rokok saat ibu mereka dalam masa kehamilan atau saat mereka bayi, dan kurang lebih 1 persen dari populasi terpapar asap rokok pada kedua periode tersebut. Uji pendengaran yang dilakukan saat anak-anak itu berusia 3 tahun menemukan bahwa 4,6 persen dari anak-anak itu kehilangan indra pendengaran.  Peluang mereka untuk kehilangan indra pendengaran sebesar 68 persen lebih besar apabila mereka terpapar asap tembakau saat ibu mereka dalam masa kehamilan, dan 30 persen lebih besar apabila mereka menjadi perokok pasif saat mereka masih bayi, demikian hasil temuan studi tersebut. Apabila anak-anak terpapar asap rokok pada kedua periode, mereka berpeluang 2,4 kali besar untuk kehilangan indra pendengaran dibandingkan anak-anak yang tidak terpapar asap rokok. "Pasien dengan risiko terbesar untuk kehilangan indra pendengaran adalah mereka yang terpapar langsung asap rokok saat ibu mereka dalam masa kehamilan," ujar Dr. Matteo Pezzoli, seorang spesialis indra pendengaran di Rumah Sakit San Lazzaro di Alba, Italia. "Menariknya, paparan pada asap rokok di usia dini tampaknya memperkuat efek merusak yang diderita sebelum dilahirkan," ujar Pezzoli, yang tidak menjadi bagian dalam studi ini, lewat email. Permasalahan lainnya Saat para wanita hamil merokok, tindakan tersebut dapat menghambat pertumbuhan otak janin dan berakibat pada disfungsi kognitif indra pendengaran, ujar Pezzoli.  Merokok juga dapat merusak reseptor sensor di telinga yang meneruskan pesan ke otak berdasarkan getaran suara. Secara global, sekitar 68 juta orang menderita kehilangan fungsi pendegaran dan diperkirakan berawal sejak masa kanak-kanak mereka, ujar Koji Kawakami dari Kyoto University dan para koleganya dalam jurnal Paediatric and Perinatal Epidemiology.  Kawakami tidak menjawab permintaan untuk memberikan komentarnya. Para peneliti mengkaji kemampuan indra pendengaran anak-anak ini dengan mengimplementasikan apa yang disebut dengan uji bisik.  Untuk keperluan tes ini, ibu-ibu mereka berdiri di depan anak-anak ini untuk mencegah anak-anak ini membaca gerakan bibir ibunya.  Kemudian ibunya membisikkan satu kata sementara salah satu telinga anak-anak ini ditutup. Meskipun tes ini tergolong sederhana dan dianggap cara akurat untuk mengkaji kemampuan indra pendengaran pada orang dewasa dan anak-anak yang berusia lebih besar, ada kekhwatiran mengenai seberapa besar kehandalan dari hasilnya pada anak-anak yang berusia muda.  Tes ini dianggap lebih handal apabila dilakukan oleh praktisi klinik terlatih dan spesialis dan dianggap kurang handal apabila dilakukan oleh para pengasuh, ujar para peneliti.  Masih belum jelas seberapa akurat hasil studi ini berdasarkan berbagai uji yang dilakukan oleh orang tua anak-anak itu, demikian pengakuan dari para peneliti. Studi ini juga bukan sebuah eksperimen terkendali yang dirancang untuk membuktikan apakah dan bagaimana paparan asap tembakau pada masa kehamilan atau bayi secara langsung menyebabkan kerusakan pada indra pendengaran anak-anak. "Belum ada evaluasi medis yang standar terkait indra pendengaran atau pengujian terhadap telinga oleh spesialis telinga," ujar Dr. Michael Weitzman, seorang dokter spesialis anak dan peneliti indra pendengaran di New York University yang tidak ikut serta dalam studi ini. Tidak ada tindak lanjut "Lebih dari itu, tingkat keseriusan hilangnya indra pendengaran tidak dapat dipastikan dalam studi ini, dan studi ini tidak menindaklanjuti perkembangan anak-anak itu semasa masa kanak-kanan, jadi kami belum tahu apakan ada perbaikan dalam indra pendengaran anak-anak itu setelah pelaksanaan studi atau malah makin memburuk sejalan berjalan waktu," ujar Weitzman lewat email. Meskipun demikian, hasil studi ini menjadi tambahan bukti yang mengaitkan paparan tembakau dengan masalah pendengaran pada anak-anak, ujar Weitzman. Untuk melindungi anak-anak terhadap masalah kerusakan indra pendengaran akibat paparan asap rokok, penting bagi kaum wanita untuk segera berhenti merokok setelah mereka hamil atau segera setelah mereka mengetahui kehamilan mereka, ujar Huanhuan Hu, seorang peneliti di National Center for Global Health and Medicine di Jepang yang tidak menjadi bagian dari studi ini. "Untuk meminimalisir peluang terpaparnya janin pada asap rokok di dalam rahim, anggota keluarga lainnya harus juga berhenti merokok, atau paling tidak tidak merokok di rumah atau dekat wanita hamil," ujar Hu lewat email. [ww]

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Jumat, 29 Juni 2018

Kesehatan - Voice of America: Hasil Studi: Obat HIV Tidak Terkait dengan Depresi

Kesehatan - Voice of America
Himpunan berita dalam website VOA mengenai berbagai penemuan dalam bidang kesehatan. 
Hasil Studi: Obat HIV Tidak Terkait dengan Depresi
Jun 30th 2018, 02:37

Sebuah studi baru terkait dengan sebuah obat HIV populer dapat meredakan kekhawatiran mengenai kaitan antara obat itu dengan depresi.  Para peneliti di Uganda menemukan bahwa efavirenz, yang sebelumnya dikhawatirkan dapat menyebabkan depresi dan bunuh diri, ternyata tidak menyebabkan efek samping yang dikhawatirkan tersebut kepada para pasien pengguna obat tersebut. Efavirenz adalah, pil dengan harga terjangkau yang dikonsumsi sekali sehari yang digunakan di seluruh dunia untuk mengobati dan mencegah HIV/AIDS.  Obat ini "disukai" oleh sebagian besar pasien di dunia, menurut Mark Siedner dari Africa Health Research Institute, "khususnya di negara-negara yang bergantung pada bantuan global untuk pengobatan HIV." Namun ada yang mengkhawatirkan efek samping dari efavirenz. Beberapa studi di AS dan Eropa menemukan risiko dari penggunaan obat tersebut yang dapat menyebabkan depresi atau bunuh diri, sementara studi lain yang dilakukan tidak menemukan risiko tersebut. Hasil temuan yang berbeda tersebut telah mendorong banyak dokter di Amerika Serikat untuk memberikan obat yang lebih mahal namun dianggap lebih aman. Siedner ingin mengamati sekali lagi tentang risiko dari depresi, kali ini pada populasi di Afrika.  Dari tahun 2005 hingga 2015, ia dan sebuah tim yang terdiri dari dokter-dokter Uganda dan AS melacak 694 pasien yang mengkonsumsi efavirens atau pengobatan antiretroviral lainnya.  Secara reguler mereka bertanya kepada para pasien itu apakah mereka mengalami depresi atau mempertimbangkan untuk melakukan bunuh diri. Tidak ada bedanya Hasil analisis mereka, yang dipublikasikan di the Annals of Internal Medicine, menunjukkan tidak ada bedanya antara dua metode pengobatan tersebut.  Siedner mengatakan pada VOA, "Dengan kata lain, efavirenz tidak terkait dengan risiko depresi.  Bila ada, tampaknya ada sebuah sinyal yang berpotensi untuk mengaitkan obat itu dengan berkurangnya risiko.  Namun sinyal itu tidak cukup kuat untuk kami dapat menyatakannya." Para penyusun studi ini melaporkan dari 17 peserta yang meninggal dalam rentang pelaksanaan studi ini, tak satupun dari kematian yang terjadi disebabkan oleh tindakan bunuh diri. Siedner memiliki dua kemungkinan penjelasan mengapa hasil temuan mereka berbeda dengan hasil temuan di negara-negara Barat.  "Satu potensi penyebabnya adalah setiap kelompok etnis di dunia, sudah barang tentu memiliki perbedaan, dan berbeda dalam banyak hal – berbeda dari segi sosial, dari segi lingkungan, dan dalam hal ini mungkin secara genetik berbeda."  Timnya berusaha untuk mencari tahu apakah gen yang mengendalikan metabolisme dari obat itu berperan dalam hasil temuan studi. Penjelasan kedua adalah efektivitas dari obat itu.  Karena efavirenz begitu manjur, bisa jadi obat itu membuat orang tetap merasa lebih sehat dibandingkan perkiraan mereka, sehingga para lebih sedikit pasien yang merasakan emosi negatif. Studi ini penting, ujar Anthony Fauci, yang mengepalai the National Institute of Allergy and Infectious Diseases, karena temuan ini menampik "hasil pengamatan awal terkait munculnya ide untuk bunuh diri dan timbulnya depresi" yang disebabkan oleh efavirenz.  Ia mengatakan pada VOA, "menurut saya dengan adanya hasil temuan yang bertolak belakang dari laporan-laporan ini, akan ada orang yang mengusulkan untuk melakukan studi acak dan mengamati hasilnya.  Jadi hasil temuan dalam studi ini tidak akan menjadi akhir dari segalanya." Sejalan dengan bertambahnya penelitian terkait keamanan efavirenz, obat-obatan yang baru dengan harga yang lebih terjangkau yang berpotensi untuk menggantikannya akan segera diperkenalkan.  Salah satunya, dolutegravir, namun juga tetap mengandung risiko.  Sebuah studi yang dilakukan di Botswana menemukan dolutegravir terkait dengan kerusakan pada saluran syaraf dalam embrio, yang maknyanya obat ini tidak aman untuk wanita hamil.  Seperti yang sudah-sudah, penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk memastikan apakah ini masalah yang biasa atau bersifat spesfik terhadap populasi dimana penelitian ini dilakukan di Botswana. "Saya rasa keseluruhan bidang ini sekarang masih menahan diri," ujar Siedner saat ditanyakan tentang dolutegravir dan masa depan pengobatan HIV. [ww]

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.