Senin, 29 Juni 2020

Kesehatan - Voice of America: Flu Babi Baru Ditemukan di China Berpotensi Jadi Pandemi

Kesehatan - Voice of America
Himpunan berita dalam website VOA mengenai berbagai penemuan dalam bidang kesehatan. 
Flu Babi Baru Ditemukan di China Berpotensi Jadi Pandemi
Jun 30th 2020, 05:21

Kantor berita Perancis AFP melaporkan bahwa China dihadapkan pada sebuah jenis flu babi baru yang mampu memicu pandemi. AFP mengutip kesimpulan sebuah studi yang diterbitkan pada Senin (29/6) di dalam jurnal PNAS. Flu ini diberi nama "G4", dan merupakan turunan genetik dari H1N1 yang menyebabkan pandemi pada 2009. Penyakit ini memiliki "semua tanda-tanda penting sangat mampu untuk menular kepada manusia," demikian kata penulis laporan itu, yaitu para ilmuwan di universitas-universitas China dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China. Dari 2011 sampai 2018, peneliti mengambil 30 ribu sampel cairan hidung dari babi-babi di rumah jagal di 10 provinsi China, dan rumah sakit hewan. Hal ini memungkinkan mereka mengidentifikasi 179 virus pada babi. Kebanyakan dari virus ini jenis baru, dan dominan pada ternak babi sejak 2016. Peneliti kemudian melakukan berbagai percobaan virus ini pada hewan. Pengamatan menunjukkan, G4 sangat menular, dan bisa melakukan replikasi dalam sel manusia serta menyebabkan gejala lebih parah dibandingkan virus lainnya. Tes juga memperlihatkan, kekebalan yang diperoleh manusia dari flu musiman ternyata tidak melindungi dari G4. Menurut tes darah, yang memperlihatkan antibodi yang tercipta akibat pemaparan pada virus ini, 10,4 persen dari para pekerja peternakan bagi sudah terinfeksi. Uji juga memperlihatkan bahwa 4,4 persen dari populasi umum tampaknya juga sudah terpapar. [jm/pp]    

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Kesehatan - Voice of America: Peneliti Oxford: Percobaan Obat HIV untuk Covid-19 Tidak Efektif

Kesehatan - Voice of America
Himpunan berita dalam website VOA mengenai berbagai penemuan dalam bidang kesehatan. 
Peneliti Oxford: Percobaan Obat HIV untuk Covid-19 Tidak Efektif
Jun 30th 2020, 02:19

Para peneliti di University of Oxford, Senin (29/6), mengumumkan sebuah kombinasi obat anti-virus sebagai pengobatan untuk Covid-19 ternyata tidak menunjukkan potensi penyembuhan pasien. Obat itu, Kaletra, yang menggabungkan lopinavir dan ritonavir, biasanya digunakan untuk mengobati HIV.  "Hasil dari percobaan ini, bersama dengan percobaan besar acak lainnya harus diperhitungkan ke dalam panduan terbaru sehubungan bagaimana pasien harus diobati," demikian kata Martin Landray, deputi kepala peneliti percobaan ini. Lopinavir-ritonavir tidak memitigasi laju kematian jangka pendek, memperpendek waktu tinggal di RS, atau menghambat laju penyakit.  Hasil ini diterbitkan sebagai bagian dari percobaan RECOVERY Oxford, sebuah percobaan besar secara acak melibatkan lebih dari 11.800 pasien dari seluruh Inggris yang melakukan evaluasi terhadap sejumlah pengobatan Covid-19 yang diusulkan. Total ada 1.596 pasien yang diobati dengan kombinasi lopinavir-ritonavir, dan 3.376 pasien yang diberi pengobatan biasa. Mereka mengumumkan hasil ini setelah dikaji oleh sebuah komite independen.  Percobaan ini mengonfirmasi sebuah studi lebih kecil yang diterbitkan di dalam the New England Journal of Medicine edisi Maret, yang juga menyimpulkan bahwa lopinavir-ritonavir tidak membantu penyembuhan pasien Covid-19. Pada awal Juni, Oxford menerbitkan hasil percobaan yang menunjukkan bahwa obat antimalaria hidroksiklorokuin tidak efektif sebagai pengobatan Covid-19. Presiden AS Donald Trump adalah seorang tokoh yang menganjurkan penggunaan obat itu, dan malahan pada Mei mengatakan, dia minum obat itu sebagai langkah pencegahan.  Milken Institute memperkirakan saat ini terdapat hampir 260 cara pengobatan dan lebih dari 170 vaksin yang sedang dikembangkan. Belum ada pengobatan atau vaksin yang disetujui, meskipun China pada Minggu (28/6) mengumumkan telah memberi persetujuan pada sebuah kandidat vaksin yang akan digunakan oleh pihak militer. [jm/pp]

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.