Kamis, 30 November 2017

Kesehatan - Voice of America: Vaksin Demam Dengue Tidak Direkomendasikan untuk Penderita Baru

Kesehatan - Voice of America
Himpunan berita dalam website VOA mengenai berbagai penemuan dalam bidang kesehatan. 
Vaksin Demam Dengue Tidak Direkomendasikan untuk Penderita Baru
Dec 1st 2017, 03:03

Perusahaan farmasi Sanofi mengatakan, berdasarkan data baru, vaksin demam dengue buatan perusahaannya dan yang pertama di dunia, seharusnya hanya boleh diberikan untuk pasien yang sebelumnya sudah pernah menderita demam dengue.  Dalam sebuah pernyataan, Sanofi menyatakan pihaknya baru-baru ini meneliti data pasien selama enam tahun. Menurut kesimpulan para peneliti, vaksin demam berdarah memang melindungi penderita dari infeksi lebih lanjut, jika mereka sudah pernah terinfeksi demam berdarah. Namun hal itu tidak berlaku untuk penderita yang baru pertama kali terinfeksi demam berdarah.  "Untuk pasien yang belum pernah terinfeksi virus demam dengue..hasil analisis menemukan dalam jangka panjang, bisa mengalami kasus-kasus penyakit itu yang lebih parah setelah menerima vaksinasi," kata Sanofi. "Penemuan ini menyoroti kompleksitas infeksi demam berdarah." Orang-orang yang pernah menderita demam dengue lebih dari satu kali bisa berisiko menderita demam berdarah dengue (DBD). Nyamuk dengue ditemukan di wilayah-wilayah beriklim tropis dan sub-tropis di seluruh dunia. Gejala-gejalanya seperti sakit flu, antara lain, nyeri sendi, mual, muntah, dan ruam-ruam pada kulit. Dalam kasus-kasus yang parah, demam dengue bisa menyebabkan masalah pernafasan, pendarahan dan gagal organ.  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan sekitar setengah dari populasi dunia berisiko terjangkiti demam dengue dan diperkirakan 96 juta orang jatuh sakit akibat infeksi virus itu setiap tahunnya. Sanofi mengusulkan otoritas nasional membarui informasi peresepan. Sanofi juga mengatakan para dokter harus menilai kemungkinan infeksi demam dengue sebelumnya pada pasien, sebelum memutuskan apakah mereka harus divaksinasi. "Vaksinasi (dengue) tidak direkomendasikan untuk mereka yang belum pernah terinfeksi virus demam dengue," kata Sanofi. Pada saat ini, vaksinasi dengue direkomendasikan di negara-negara paling endemi dengue dan diberikan untuk orang di atas usia sembilan tahun.  Perusahaan memperkirakan kerugian 100 juta euro (118 juta dolar) akibat pemberitaan ini.  Tidak ada pengobatan khusus untuk demam dengue dan tidak ada vaksin berlisensi lainnya yang tersedia di pasaran. [fw/au]

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our polices, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Rabu, 29 November 2017

Kesehatan - Voice of America: Kemajuan dalam Perang Melawan Malaria Berisiko Terhambat karena Dana

Kesehatan - Voice of America
Himpunan berita dalam website VOA mengenai berbagai penemuan dalam bidang kesehatan. 
Kemajuan dalam Perang Melawan Malaria Berisiko Terhambat karena Dana
Nov 29th 2017, 12:59

Organisisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kemajuan signifikan yang dicapai dalam usaha memberantas malaria dalam beberapa puluh tahun terakhir berisiko mengalami kemandekan. Dalam laporan tahunannya terkait malaria, WHO mengatakan, jumlah kasus penyakit tersebut mengalami peningkatan di beberapa negara. Meski demikian, di banyak negara lain, termasuk Madagaskar, Senegal dan Zimbabwe, malaria hampir berhasil diberantas. Laporan yang dirilis Rabu itu memperingatkan, di sejumlah negara lain, kemajuan dalam usaha memerangi malaria mengalami kemandekan. Jumlah kasus malaria, menurut WHO, dilaporkan meningkat lebih dari 20 persen di delapan negara Afrika, termasuk Rwanda, Nigeria dan Republik Demokratik Kongo. Menurut David Conway dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, salah satu alasan terhambatnya kemajuan dalam memerangi malaria adalah keterbatasan dana. Pada tahun 2016, dana yang diperoleh untuk memerangi penyakit itu diketahui hanya 2,7 miliar dolar, kurang dari setengah target yang ditetapkan untuk tahun 2020. WHO menyerukan adanya investasi baru dalam mengatasi malaria, termasuk pengadaan vaksin yang efektif.  WHO menyatakan Afrika masih tercatat sebagai benua yang paling parah dilanda malaria. Pada tahun 2016, ada 401 ribu kematian terkait malaria di sana. [ab/uh]

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our polices, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.