Jumat, 30 Maret 2018

Kesehatan - Voice of America: Studi: Dosis Pengobatan dengan Antibiotik pada Penderita Sinusitis Terlalu Berlebihan

Kesehatan - Voice of America
Himpunan berita dalam website VOA mengenai berbagai penemuan dalam bidang kesehatan. 
Studi: Dosis Pengobatan dengan Antibiotik pada Penderita Sinusitis Terlalu Berlebihan
Mar 31st 2018, 03:56

Sebagian orang yang mendapatkan resep antibiotik untuk pengobatan sinusitis mendapat dosis pengobatan untuk 10 hari atau lebih meskipun kalangan dokter untuk penyakit infeksi merekomendasikan lima hingga tujuh hari untuk kasus-kasus yang sederhana, ujar sebuah studi di AS. Kalangan peneliti menguji data sample yang mewakili perkiraan 3,7 juta orang dewasa yang mendapat pengobatan untuk sinusitis dan diberi pengobatan antibiotik pada tahun 2016.  Secara keseluruhan 70 persen dari antibiotik dalam resep adalah untuk masa pengobatan selama 10 hari atau lebih, demikian temuan studi tersebut. "Kapanpun antibiotik digunakan, mereka dapat menimbulkan efek samping dan menyebabkan resistensi pada antibiotik," ujar penulis studi senior, Dr. Katherine Fleming-Dutra, wakil direktur pada Office of Antibiotic Stewardship yang berada di bawah U.S. Centers for Disease Control and Prevention di Atlanta. "Inilah alasannya mengapa pentingnya penggunaan antibiotik hanya pada saat mereka dibutuhkan dan menggunakan antibiotik yang tepat untuk masa pengobatan efektif minimum," ujar Fleming-Dutra lewat email. Efek samping antibiotik yang biasa dijumpai termasuk di antaranya ruam, pening, mual, diare, dan infeksi ragi, ujarnya.  Efek samping yang lebih serius dapat termasuk di antaranya reaksi alergi yang dapat menyebabkan kematian dan infeksi bakteri Clostridium difficile, yang dapat menyebabkan diare dan kerusakan parah pada usus besar dan kematian. Resistensi terhadap antibiotik terjadi saat bakteri mengembangkan kemampuan untuk mengalahkan kemampuan obat yang dirancang untuk membasmi mereka dan membuat pengobatan terhadap infeksi lebih sulit. ​Pedoman yang relatif baru Saat obat antibiotik diberikan untuk pengobatan infeksi sinus, hanya dibutuhkan terapi selama lima hingga tujuh hari untuk kasus-kasus yang sederhana, saat pasien mulai pulih dalam jangka waktu beberapa hari sejak memulai pengobatan dan saat tidak ada tanda-tanda apabila infeksi telah menyebar di luar sinus, menurut Infectious Diseases Society of America (IDSA). Pedoman ini relatif baru, namun, ada kemungkinan masa pemberian obat antibiotik untuk jangka waktu yang lebih panjang sebagaimana temuan dalam studi terjadi karena tidak semua dokter telah menerapkan rekomendasdi praktik yang baru ini, ujar Fleming-Dutra.  Sebelum tahun 2012, IDSA merekomendasikan pengobatan antibiotik untuk infeksi sinus pada orang dewasa selama 10 hingga 14 hari. Dalam studi tersebut, tak satupun pengobatan dengan penicillin atau tetracycline yang diberikan untuk jangka waktu 5 hari, dan hanya 5 persen dari resep penicillins, tetracyclines, atau fluoroquinolones yang diberikan untuk jangka waktu tujuh hari. Saat kalangan peneliti mengesampingkan azithromycin, sebuah antibiotik yang tidak direkomendasikan untuk pengobatan infeksi sinus, mereka menemukan 91 persen dari seluruh pengobatan dengan antibiotik untuk infeksi sinus diberikan untuk jangka waktu 10 hari atau lebih. Studi tersebut tidak mengkaji apakah atau bagaimana dampak masa pengobatan antibiotik pada infeksi sinus atu potensi dari efek samping yang ditimbulkannya. Fokus para peneliti juga hanya pada infeksi sinus yang bersifat akut, dan dengan mengesampingkan beberapa kasus dimana tipe infeksinya tidak jelas, yang kemungkinan juga telah mengesampingkan kasus-kasus yang bersifat akut, demikian catatan tim studi dalam AMA Internal Medicine. Selain itu juga ada kemungkinan dalam beberapa kasus, dokter yang memberi resep antibiotik untuk jangka waktu 10 hari atau lebih lama menginstruksikan kepada pasiennya untuk menghentikan konsumsi obat setelah lima hingga tujuh hari kecuali mereka masih merasakan gejala-gejala infeksi sinus tersebut, ujar Dr. Sharon Meropol, seorang peneliti pada Case Western Reserve University School of Medicine di Cleveland, Ohio, yang tidak berpartisipasi dalam studi ini. Peralihan obat Satu perangkap dari pendekatan ini adalah saat pemulihan pasien berjalan lambat, kemungkinan mereka terinfeksi oleh organisme yang resisten pada antibiotik yang diberikan, dan mereka dapat pulih lebih cepat apabila mereka beralih ke antibiotik yang berbeda ketimbang tetap mengkonsumsi antibiotik yang ada saat ini lebih lama, ujar Meropol lewat email. "Pedoman pengobatan bakteri sinusitis akut yang ketinggalan jaman ditulis dengan keyakinan bahwa konsumsi antibiotik dalam durasi waktu yang lebih singkat, dimana apabila bakteri tidak dibasmi secara menyeluruh akan menimbulkan risiko infeksi yang lama, berulang, dan resisten terhadap antibiotik," ujar Meropol. "Namun rekomendasinya saat ini telah berubah karena studi yang dilakukan setelah itu menunjukkan justru hal sebaliknya yang benar – bahwa apabila pasien merespon pada pengobatan yang diberikan, jangka waktu pengobatan selama lima hingga tujuh hari aman dan bisanya sudah cukup memadai," imbuh Meropol.  "Jangka waktu pengobatan yang lebih lama biasanya tidak diperlukan." [ww]

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Kesehatan - Voice of America: Ilmu Pengetahuan: Apa yang Kita Tahu Tentang Kopi dan Kaitannya dengan Kanker

Kesehatan - Voice of America
Himpunan berita dalam website VOA mengenai berbagai penemuan dalam bidang kesehatan. 
Ilmu Pengetahuan: Apa yang Kita Tahu Tentang Kopi dan Kaitannya dengan Kanker
Mar 31st 2018, 02:10

Masalah muncul bagi para pencinta kopi di California, dimanan seorang hakim memutuskan penjual kopi harus mencantumkan peringatan tentang risiko kanker.  Namun seberapa mengkhawatirkannya kebiasaan minum kopi secangkir sehari? Tidak terlalu mengkhawatirkan, sebagaimana disiratkan oleh kalangan ilmuwan dan bukti-bukti yang ada. Kekhawatiran kalangan ilmuwan tentang kopi telah memudar dalam tahun-tahun belakangan ini, dan banyak hasil studi yang malah menunjukkan kemungkinan kopi malah dapat membantu menjaga kesehatan. "Paling tidak, kopi bersifat netral.  Kalaupun ada, ada bukti yang cukup baik tentang manfaat kopi dalam menanggulangi kanker," ujar Dr. Edward Giovannucci, seorang pakar nutrisi di Harvard School of Public Health. Badan penelitian kanker yang berada di bawah World Health Organization telah mencabut kopi dari daftar "kemungkinan penyebab kanker" dua tahun yang lalu, meskipun lembaga itu menyatakan tidak ada cukup bukti untuk menyingkirkan kemungkinan peran yang ditimbulkan. Kekhawatiran yang ada saat ini bukan tentang kopi itu sendiri, namun unsur kimia yang disebut akrilamida yang timbul saat bijih kopi disangrai.  Lembaga-lembaga pemerintah menyebutnya unsur kimia yang kemungkinan tergolong karsinogen, berdasarkan atas riset yang dilakukan pada hewan, dan sebuah kelompok melakukan gugatan yang mengharuskan penjual kopi memberi peringatan sesuai dengan UU California yang disetujui pada tahun 1986. Masalahnya:  Tak seorangpun tahu tingkat yang tergolong aman atau berisiko bagi orang-orang.  U.S. Environmental Protection Agency telah menetapkan batas akrilamida untuk air minum, namun tidak ada satupun untuk makanan. "Dengan mengkonsumsi secangkir kopi sehari, kemungkinan terpapar karsinogen tidak terlalu tinggi," dan kemungkinan anda tidak perlu menghilangkan kebiasaan konsumsi kopi, ujar Dr. Bruce Y. Lee dari John Hopkins Bloomberg School of Public Health.  "Apabila anda mengkonsumsi kopi dalam jumlah besar sehari-harinya, mungkin ada punya alasan untuk mengurangi tingkat konsumsinya." Ini adalah hal-hal yang diketahui tentang risiko yang ada.  Unsur kimia Mulai dengan risiko terbesar penyebab kanker yang telah diketahui – merokok – yang menghasilkan akrilamida.  Di antara bahan makanan, French fries, keripik kentang, keripik, biskuit, sereal dan bahan pangan denga kandungan karbohidrat tinggi lainnya mengandung unsur kimia tersebut sebagai hasil sampingan dari proses penyangraian, pemanggangan, pembakaran, atau penggorengan. Food and Drug Administration menguji tingkat akrilamida yang ditemukan yang berkisar antara 175 hingga 351 parts per billion (sebuah ukuran konsentrasi bahan pencemar) dari enam merk kopi yang diuji; yang tertinggi adalah jenis kristal kopi dengan kafein yang telah dihilangkan.  Sebagai perbandingan french fries di salah satu jaringan restoran waralaba kandungannya berkisar antara 117 hingga 313 parts per billion, tergantung pada lokasi tempat pengujian.  Beberapa french fries yang dijual bebas kandungannya melebihi 1.000 parts per billion. Bahkan beberapa makanan bayi mengandung akrilamida, seperti biskuit yang dibuat untuk melatih bayi menggigit dan biskuit bayi lainnya.  Satu merek ubi organik yang diuji mengandung unsur kimia akrilamida sebesar 121 parts per billion. Apa saja risikonya? Label "kemungkinan" berdasarkan atas studi pada hewan yang diberikan tingkat akrilamida yang tinggi pada air minumnya.  Namun ada perbedaan cara menyerap unsur kimia antara manusia dan hewan pengerat pada tingkat yang berbeda dan proses metabolismenya juga berbeda, jadi relevansinya terhadap kesehatan manusia masih belum diketahui. Sebuah kelompok yang terdiri dari 23 ilmuwan dalam sebuah rapat yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga penyelidik kanker di bawah WHO pada tahun 2016 mengamati kopi – ketimbang pengamatan secara langsung terhadap akrilamida – dan memutuskan kopi bukan penyebab kanker payudara, prostat, atau pankreas dan tampaknya kopi dapat mengurangi risiko kanker hati dan rahim.  Tidak ada cukup bukti untuk menentukan dampaknya pada sejumlah tipe kanker lainnya. UU California Sejak 1986, badan usaha diwajibkan untuk mencantumkan peringatan tentang unsur kimia yang diketahui dapat menyebabkan kanker atau risiko kesehatan lainnya – lebih dari 900 unsur kimia tercantum dalam daftar negara bagian saat ini – namun apa yang tergolong sebagai risiko "signifikan" masih dapat diperdebatkan. Para penjual kopi dan pihak-pihak tergugat lainnya yang mendorong diloloskannya aturan tersebut hari Kamis diberi kesempatan beberapa pekan untuk melakukan perlawanan atau mengajukan banding. Undang-undang ini "berpotensi untuk menimbulkan lebih banyak kerugian ketimbang manfaat bagi kesehatan masyarakat," dengan menimbulkan keresahan di antara masyarakat yang berpikir risiko yang ditimbulkan oleh kopi sama tingginya dengan merokok, ujar Giovanucci. The International Food Information Council and Foundation, sebuah organisasi yang didanai sebagian besar oleh industri makanan dan minuman, mengatakan undang-undang ini meresahkan masyarakat karena tidak adanya panduan tentang level risiko, dan menambahkan pedoman pola makan AS mengatakan konsumsi kopi hingga lima cangkir sehari dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Dr. Otis Brawley, seorang pejabat medis utama dari the American Cancer Society menyatakan, "Yang jadi bahan permasalahan di sini adalah dosis, dan jumalh akrilamida yang terkandung dalam kopi, yang sesungguhnya sangat sedikit, dibandingkan dengan jumlah akrilamida yang ditimbulkan dengan merokok.  Saya pikir kita tidak perlu merisaukan dampak dari mengkonsumsi secangkir kopi." Amy Trenton-Dietz, seorang spesialis kesehatan publik di the University of Wisconsin-Madison, mengatakan peraturan negara bagian California sangat bertentangan dengan hasil temuan ilmu pengetahuan. "Studi pada manusia menyiratkan, bila ada, kopi dapat menjadi pencegah terhadap jenis-jenis kanker tertentu," ujarnya.  "Selama orang tidak menambahkan gula atau pemanis dalam jumlah banyak, kopi, teh, dan air putih adalah hal terbaik yang dapat dimimum oleh seseorang." Serial Associated Press diterbitkan dalam kemitraan bersama the Howard Hughes Medical Institute's Department of Science Education.  AP adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab terhadap isi artikel ini.  [ww]

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.