Minggu, 30 September 2018

Kesehatan - Voice of America: Bekas Pengungsi Afghanistan Gunakan ‘Telemedicine’ untuk Selamatkan Nyawa

Kesehatan - Voice of America
Himpunan berita dalam website VOA mengenai berbagai penemuan dalam bidang kesehatan. 
Bekas Pengungsi Afghanistan Gunakan 'Telemedicine' untuk Selamatkan Nyawa
Oct 1st 2018, 00:11

Seorang bekas pengungsi Afghanistan yang kemudian berprofesi sebagai dokter di Inggris menggunakan teknologi dan internet untuk menyelamatkan jiwa di di negara-negara miskin dan dikoyak perang. Ketika Waheed Arian datang ke Inggris dari Afghanistan dua puluh tahun lalu, pada usia 15 tahun, orang-orang mengatakan kepadanya bahwa dia mungkin akan menjadi supir taksi atau pekerja restoran. Tapi bekas pengungsi ini punya ambisi lain. "Setelah mengalami penderitaan karena perang selama 15 tahun di Afghanistan, bersembunyi dari roket, bom dan penembakan mematikan, dan juga tinggal tiga tahun di kamp pengungsi, menderita malaria dan tuberkulosis… keinginan saya untuk menjadi dokter tumbuh sejak kecil," tuturnya. Arian mengikuti panggilan jiwanya dan kini menjadi dokter praktik di RS Universitas Aintree di Liverpool. Dr. Arian kemudian mendirikan sebuah organisasi amal bernama Arian Teleheal Charity. Organisasinya memanfaatkan kecanggihan teknologi video dan internet untuk membantu para dokter dan pasien di negara asalnya. Seperti John Curtis, seorang konsultan radiologi RS Universitas Aintree, yang memberikan konsultasi jarak jauh kepada Najib Suhraby, seorang dokter di RS Wazir Akbar Khan di Kabul. Dengan Skype atau Facetime, para dokter relawan seperti Curtis bisa mendiagnosa pasien dan menasihati para dokter di tempat-tempat yang sulit terjangkau seperti zona perang atau negara-negara miskin yang tidak memiliki perangkat medis yang memadai. "Di negara dengan insfrastruktur, bantuan atau pakar yang kurang memadai, kita bisa membuat perbedaan besar dengan jangka waktu yang pendek." Di RS Wazir Akbar Khan di Kabul tengah, Dokter Najib Suhraby mengatakan pengobatan jarak jauh bermanfaat bagi penyedia layanan kesehatan dan pasien. "Sangat mudah menghubungi mereka dan melakukan konsultasi dengan pasien lewat pengobatan jarak jauh," kata Najib. Bagi Mazharuddin, ayah dari seorang pasien di RS itu, pengobatan jarak jauh sangat bermanfaat. "Memudahkan kami sehingga tidak perlu ke luar negeri dan menghemat waktu," ujarnya. Arian mengatakan layanan itu kini digunakan di hampir ke-14 unit perawatan intensif di Afghanistan. Dan juga digunakan di kota Aleppo, Suriah yang dikoyak perang, dan diperluas ke beberapa bagian Afrika untuk menjembatani kesenjangan antara para dokter dan pasien – bahkan di tempat-tempat yang paling terisolasi dan sulit dicapai. (vm)

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Jumat, 28 September 2018

Kesehatan - Voice of America: Kasus Pertama Hepatitis E Tikus pada Manusia Ditemukan di Hong Kong

Kesehatan - Voice of America
Himpunan berita dalam website VOA mengenai berbagai penemuan dalam bidang kesehatan. 
Kasus Pertama Hepatitis E Tikus pada Manusia Ditemukan di Hong Kong
Sep 28th 2018, 07:07

Menurut penelitian di dalah satu univeristas, Seorang pria Hong Kong telah terinfeksi penyakit virus Hepatitis E yang biasanya menjangkiti tikus. Ini adalah kasus infeksi Hepatitis E tikus pada manusia yang pertama di dunia, menurut sebuah penelitian dari sebuah universitas ternama di Hong Kong. Sebelumnya belum pernah ditemukan bukti penyakit tersebut dapat menular dari tikus ke manusia, kata Univeristas Hong Kong pada Jumat (28/9) seperti dikutip kantor berita AFP. Para peneliti memperingatkan penemuan itu penting untuk "masalah kesehatan masyarakat." "Penelitan secara menyakinkan membuktikan untuk pertama kalinya di dunia bahwa HIV tikus dapat menyerang manusia dan menyebabkan infeksi yang cukup parah," kata universitas itu menambahkan.  Hepatitis E tikus memilki hubungan yang jauh dengan jenis virus Hepatitis E pada manusia, kata Universitas Hong Kong. Penyakit ini ditemukan pada seorang laki-laki berumur 56 tahun, yang hasil tes fungsi hatinya terus-menerus menunjukkan abnormalitas setelah menjalani pencangkokan hati. Dia kemungkinan terjangkit penyakit tersebut melalui makanan yang terkontaminasi kotoran tikus, menurut rincian penelitian yang dilaporkan koran South China Morning Post. Laki-laki ini hidup di perumahan dimana terdapat tanda-tanda sarang tikus di luar rumahnya. Dia sedang dalam pemulihan setelah menerima pengobatan, menurut laporan SCMP.  Hepatitis E pada manusia adalah penyakit hati yang menyerang 20 juta manusia secara di seluruh dunia setiap tahunnya, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Penyakit itu pada umumnya menyebar melalui air minum yang tekontaminasi. Tanda-tandanya meliputi demam, muntah-muntah, dan sakit kuning, dan dalam beberapa kasus yang langka, bisa mengakibatkan kegagalan fungsi hati. Pada 2003, hampir 300 orang meninggal karena SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) atau sindroma pernafasan akut. Wabah pes itu dibawa oleh tikus, tersebar melintas China daratan dan Hong Kong pada akhir abad ke -19 dan membunuh ribuan orang. [vp/ft]  

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.