Selasa, 31 Oktober 2017

Kesehatan - Voice of America: Laporan: Polusi Penyebab Kematian Terbanyak, daripada Penyakit Apapun

Kesehatan - Voice of America
Himpunan berita dalam website VOA mengenai berbagai penemuan dalam bidang kesehatan. 
Laporan: Polusi Penyebab Kematian Terbanyak, daripada Penyakit Apapun
Nov 1st 2017, 02:09, by noreply@voanews.com (KEVIN ENOCH)

Polusi menyebabkan lebih banyak kematian setiap tahun daripada penyakit apapun. Itulah berita utama dari sebuah laporan baru yang diterbitkan di jurnal medis The Lancet hari Kamis lalu. Bagian dari tanggapan akan jumlah yang besar ini mencakup penanganan polusi sebagaimana halnya sebuah isu kesehatan, bukan hanya masalah lingkungan. Kunci penting dari laporan tersebut adalah polusi merusak kesehatan manusia, tidak hanya lingkungan saja. "Polusi membunuh lebih banyak orang daripada perang dan kelaparan, daripada malaria atau AIDS atau tuberkulosis. Semua ini jauh dibandingkan dengan polusi," kata Andrew Maccarator.  Pelajaran lainnya adalah tingkat kematian terutama mempengaruhi orang-orang yang paling kesulitan untuk mendapatkan pertolongan. "Pada tahun 2016, polusi secara nyata menyebabkan 9,6 juta kematian, 92 persen dari kematian tersebut berada di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Jumlah tersebut besar mengingat distribusi masalah. Tapi jujur saja pembagian tersebut tidak adil. Periset mengatakan otak kita membuat polusi lebih sulit dilawan," papar Oluseji Adeyi dari Bank Dunia. "Manusia terlatih untuk menanggapi ancaman Langsung. Penyakit menular seperti Zika, seperti demam berdarah, yang membuat orang cepat dan jelas menderita sakit, benar-benar mendapat perhatian publik. Sebaliknya, penyakit tidak menular, penyakit kronis yang disebabkan oleh polusi, masalah belajar, kanker, penyakit paru-paru kronis perlu waktu bertahun-tahun untuk mendapat perhatian. Kaitan antara sebab dan akibat tidak tampak jelas dan orang dengan mudah mengabaikannya," ujar Dr. Phillip Landrigan. Oleh karenanya laporan tersebut mencoba untuk memecah masalah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Richard Fuller dari Komisi Lancet menjelaskan, "Ada polusi udara, polusi air, isu-isu tanah dan tempat kerja. Dalam setiap kategori tersebut, cenderung ada jenis masalah yang sama yang muncul berulang kali dan ini adalah cara bagaimana kita melihat polusi." Seperti polusi udara yang meluas di India dan China, misalnya, menurut Gardiner Harris dari harian New York Times. "India menjadi jauh lebih berbahaya selama 20 tahun lalu karena polusi udara. Berbahaya dalam hal yang tidak pernah kita lihat sebelumnya di bumi," tukasnya. Di tempat lain, polusi darat disebabkan oleh timbal, dan limbah berbahaya yang bertahan bertahun-tahun. Laporan Lancet mendesak negara-negara untuk menetapkan target khusus, lima tahun, 10 tahun dan seterusnya agar masalah tersebut lebih mudah dikelola. [my/lt]

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our polices, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.

Jumat, 27 Oktober 2017

Kesehatan - Voice of America: Penderita Campak Dunia Turun Di Bawah 100.000 Pada 2016

Kesehatan - Voice of America
Himpunan berita dalam website VOA mengenai berbagai penemuan dalam bidang kesehatan. 
Penderita Campak Dunia Turun Di Bawah 100.000 Pada 2016
Oct 27th 2017, 06:07

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dana PBB untuk Anak-Anak (UNICEF) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengatakan tingkat kematian akibat campak turun hingga 84 persen sejak kampanye vaksinasi global dicanangkan pada 2000.  Menurut para ahli, jumlah orang yang meninggal akibat campak sekitar 90.000, dibanding 550.000 kematian pada 2000. Ini pertama kalinya kematian akibat campak di seluruh dunia turun di bawah 100.000 orang per tahun. Robert Linkins dari Inisiatif Campak dan Rubela di CDC mengatakan dalam pernyataan bahwa "menyelamatkan rata-rata 1,3 juta kehidupan per tahun melalui vaksin campak adalah pencapaian yang luar biasa dan tampaknya memungkin, bahkan lebih memungkinan untuk menciptakan dunia yang bebas dari campak." Sejak 2000, sebanyak 5,5 miliar dosis vaksin campak telah diberikan kepada anak-anak melalui imunisasi rutin dan kampanye vaksinasi masal. Penyakit ini menular melalui partikel-partikel udara dan bisa menyebar dengan cepat. Campak membunuh lebih banyak orang setiap tahunnya dibandingkan penyakit yang bisa dicegah oleh vaksinasi lainnya.  Namun WHO mengatakan dunia masih jauh dari tujuan regional penghapusan campak. Sejak 2009, para pejabat telah berhasil memberikan dosis pertama kepada 85 persen bayi yang membutuhkan. Namun angka tersebut tidak berubar dalam delapan tahun. Dan hanya 64 persen dari populasi yang terkena mendapatkan dosis kedua yang biasanya diberikan ketika anak berumur empat atau lima tahun. WHO mengatakan "terlalu banyak anak", sekitar 20,8 juta yang belum mendapatkan dosis campak pertama. Kebanyak mereka adalah anak-anak yang tinggal di Nigeria, India, Pakistan, Indonesia, Ethiopia dan Republik Demokratik Kongo. Anak yang terkena campak berisiko mengalami komplikasi seperti pneumonia, diare, encefalistis dan kebutaan.  Vaksin campak diberikan bersama dengan penyakit gondongan dan rubela atau yang dikenal dengan MMR. [fw/au]

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our polices, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.